Dibalik Wisata Desa Adat Kemiren

Dibalik Wisata Desa Adat Kemiren

Bagi para wisatawan Kota Banyuwangi, Desa Kemirendesa kemiren termasuk pilihan wisata yang tidak bisa dilewati, Kemiren adalah Desa Adat di Banyuwangi yang terletak di Kecamatan Glagah dengan Kebudayaan Osing yang sangat kental di masyarakatnya.

Desa Kemiren memiliki luas 117.052 m2 memanjang hingga 3 km yang di kedua sisinya. Penduduk di desa ini merupakan kelompok masyarakat yang memiliki adatistiadat dan budaya khas Banyuwangi yaitu suku Osing (Using). Pemerintah menetapkannya Desa Kemiren sebagai daerah cagar budaya dan mengembangkannya sebagai Desa Wisata Suku Osing (Using).

Daya Tarik Desa Kemiren

sanggar gejah arum banyuwangi

Beberapa Daya tarik wisata di Desa Kemiren adalah adanya Sanggar Genjah Arum. Sanggar yang didesain dengan indah dan mengusung unsur tradisional membawa para wisatawan yang berkunjung merasa dibawa ke Banyuwangi tempo dulu. Sanggar Genjah Arum di Desa kemiren ini milik pribadi yaitu seorang pengusaha perkebunan yang bernama Setiawan Subekti yang biasa dipanggil Iwan.

Pada Sanggar Gejah Arum terdapat 7 buah rumah adat Osing, yang sengaja ditata tak beraturan di lahan kurang lebih 7000 meter persegi. Rumah Kuno tersebut sebagian sudah berusia hampir 100 tahunan yang dikumpulkan oleh Iwan. Bahkan ada rumah yang usianya lebih dari 100 tahun yang ukurannya sangat besar, yang biasanya digunakan untuk berkumpul dan pertunjukan kesenian di sanggar tersebut. Dirumah rumah tersebut juga di tambahkan akses ornamen kuno sebagai pelengkap kekhasan dari rumah kayu di sanggar tersebut.

Di Desa Kemiren, anda juga bisa menjumpai beberapa hiburan wisata, antara lain :

Artikel Terkait :
Wisata Pantai Sukamade (Part 1)
Menikmati Rujak Soto Khas Banyuwangi

Angklung Paglak

Paglak di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Paglak adalah gubuk kecil sederhana tanpa dinding yang
terbuat dari bambu dan beratap ijuk (anyaman daun kelapa), yang dibangun di sawah atau di dekat pemukiman. Paglak umumnya berukuran hanya 2×3 meter dan dibangun sekitar 10 meter di atas tanah, ditopang empat bumbu utuh sebagai kaki penyangga. Jadi, jika seseorang ingin masuk ke dalam gubuk, ia harus memanjat untuk mencapainya.

Awalnya, fungsi bangunan ini sebagai tempat untuk menjaga padi dari burung. Petani biasanya menjaga sawah sembari bermain alat musik angklung dalam paglak tersebut. Karena itu, seni ini disebut angklung paglak. Untuk memainkan musik tersebut dibutuhkan keberanian dan konsentrasi ekstra karena bertempat di ketinggian.
Angklung Paglak biasanya dimainkan 4 pemian laki-laki, yang
terdiri dari 2 pemain angklung dan 2 orang pemukul kendang. Seperti namanya,kesenian ini harus dimainkan di atas ketinggian dari bilik Paglak.

Angklung Paglak khas Banyuwangi.

Paglak pun mengalami transformasi dari yang dulu didirikan di sawah untuk mengusir burung berubah menjadi aksesori budaya di halaman rumah atau perkantoran. Paglak di Sanggar Genjah Arum milik Setiawan Subekti itu berdiri di balik pintu gerbang barat. Tingginya sekitar 15 meter. Angklung paglak pun menjadi kesenian khas Banyuwangi yang disuguhkan untuk para tamu atau turis yang berkunjung ke Sanggar Genjah Arum.

Tarian Barong Kemiren

Barong desa Kemiren, Banyuwangi.

Tarian Barong Kemiren ini disuguhkan sebagai penyambut para tamu yang akan hadir dengan diarak bersama penari dan pemain musik Barong untuk memasuki gerbang Sanggar yang terletak paling ujung di Desa Kemiren tersebut.Kemudian di dalam halaman sanggar tersebut, Barong yang sudah berusia hampir 100 tahun itu menampilkan atraksi tarian.

Barong memiliki arti bareng (bersama), untuk masuk ke dalam tempat yang kita anggap memiliki makna. Wisatawan tidak hanya melihat atraksinya, namun filosofiyang terkandung dalam tarian Barong yang artinya kebersamaan. Atraksi Barong Kemiren ini berlangsung selama 15 menit. ditambah atraksi penari “pitik-pitikan” menambah keindahan tarian Barong tersebut.

Othek (Musik Lesung)

Musik Gedhogan ala desa adat Kemiren, Banyuwangi.
Musik Gedhogan ala Desa Kemiren.

Para Pemain Musik ini adalah wanita-wanita tua atau mbah mbah yang memainkan alu dan lesung (kayu tempat menumbuk padi). Musik yang dimainkan mbah-mbah ini disebut Gedhogan. Biasanya diiringi oleh pemain biola tradisional dan angklung paglak. Kesenian ini merupakan warisan budaya asli Osing, Suku asli Banyuwangi.

Ceritanya, Pada masa lalu saat panen tiba, para petani menggunakan ani-anak diiringi tabuhan angklung dan gendang yang dimainkan di pematang sawah. Saat menumbuk padi, para perempuan memainkan tradisi Gedhogan, yaitu memukul-mukul lesung dan alu sehingga menimbulkan bunyi ritmis yang enak didengar. Dari sinilah tradisi Ghedhogan bermula.

Wisata Tarian Gandrung Banyuwangi

tari gandrungDi Sanggar Arum, Tari Gandrung disuguhkan ketika tamu sudah bersantai dan menikmati suasana Banyuwangi tempo dulu, tidak seperti Tari Gandrung biasanya yang dijadikan sebagai tari pembuka dalam menyambut tamu.

Para penari yang biasanya berjumlah 3 orang itu, menarikan sejumlah babakan (bagian) tarian gandrung Banyuwangi. Setelah itu, penari membawa selendanguntuk diberikan kepada tamu yang menonton disana.

Bagi yang terpilih dan menerima selendang dari gandrung, diwajibkan untuk menari bersama gandrung. Hal ini merupakan bagian dari tarian Gandrung yang disebut “Paju Gandrung”. Secara silih berganti, para gandrung tersebut mengajak para tamu untuk ikut melantai.

Kopai Using Khas Banyuwangi

kopi kemirenTak lengkap rasanya bila berkunjung ke Desa Adat Kemiren tapi tidak mencicipi Kopi olahan masyarakat Desa Adat Using Kemiren yang cukup dikenal karena cita rasanya yang khas. Kopi yang diproduksi
Paguyuban Tholik Kemiren (Pathok), ini memiliki cara tersendiri dalam proses pembuatannya.

Kopi osing khas desa Kemiren, Banyuwangi.Tak hanya mencicipi, pengunjung dipersilahkan praktek secara
langsung. Mulai dari proses menyangrai, menumbuk biji kopi yang matang, menyaring bubuk kopi hingga praktek cara penyajian kopi yang benar sehingga menghasilkan kopi yang bercita rasa tinggi.
Rasa kopi yang disajikan ada beberapa pilihan, seperti house blend, kopi murni Arabica atau Robusta, baik yang expresso maupun regular, semua dijamin menggetarkan lidah Anda.

jajanan khas banyuwangi genjah arum

Sambil menikmati penampilan seni budaya di Sanggar Genjah Arum, secangkir kopi dan jajanan khas Banyuwangi seperti tape buntut, bolu kuwuk dan bermacam gorengan, menambah nikmatnya menikmati suasana di Sanggar Genjah Arum.

Menikmati kopi Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi
Pengunjung bisa duduk-duduk dan menyeruput kopi di balai rumah 

Artikel Terkait :
Rujak Kecut Khas Banyuwangi
Menikmati Rujak Soto Khas Banyuwangi

Related Post

Tinggalkan Balasan